Stuck

Sudah nyaris tiga minggu ini, saya kedatangan tamu bernama Stuck. Sebagai seorang penulis, kedatangan tamu bernama stuck itu biasa. Biasanya ia singgah untuk menggoda.

Saya juga sering disinggahinya. Biasanya sebulan sekali, tetapi pernah juga ia tidak muncul selama satu semester. Saya benar-benar menikmati dunia ketika ia tak ada.
Seperti anak yang dilepas oleh orang-tuanya.
Seperti anjing yang lepas dari kandangnya.
Seperti burung yang bebas dari sangkarnya.

Kala itu, saya menikmati setiap kata yang saya tulis. Seperti bernafas.

Tetapi kini, saya benar-benar nyaris gila. Tiga minggu dengan insomnia akut yang menghantui malam-malam saya. Sedangkan di siang hari, saya hanya mampu termangu memandangi layar laptop saya tanpa mampu mengetikkan satupun kata, apalagi rangkaian kalimat.

Tiga minggu lamanya!

Kali ini, kunjungan Stuck membuat saya ketakutan setengah mati. Saya melayaninya siang dan malam, bagaikan budak melayani tuannya.

Aduh, kenapa Stuck memilih menginap di rumah hati saya begitu lama? Saya tak tahu.

Yang saya tahu, saya ingin sekali mengusirnya. Tetapi mulut saya yang biasanya mengoceh dengan riang dengan suara bak kaleng kini terkunci rapat. Saya tidak mampu bilang TIDAK kepada Stuck.

Tepatnya, saya tidak tahu harus bilang apa kepadanya!

Saya nyaris setengah gila melayaninya. membiarkannya tidur di ranjang saya, menggunakan peralatan makan saya, hingga pakaian dalam saya!

Saya benci melihat Stuck setiap kali saya berpapasan dengannya di rumah hati saya. Saya juga tidak bisa mengurung diri di kamar, karena Stuck memilih tidur bersama saya!

Seorang teman pernah menyarankan, cara mengusir Stuck adalah dengan membiarkannya tinggal sendirian di rumah hati saya. “Jadi, gue kudu pergi dari rumah gue dong?” Keluh saya.

“Ya, mau ga mau. Ntar lama-lama dia juga akan pergi sendiri kok. Kan ga ada lagi yang melayani dia,” kata teman saya.

Ternyata, salah satu kelemahan Stuck, ternyata adalah ia tidak bisa melayani dirinya sendiri. Itulah sebabnya ia senang hidup nomaden. Berpindah dari korban satu ke korban lain.

Sebulan berlalu sejak kedatangannya.

Saya sudah pergi seminggu dari rumah hati saya. Akhirnya saya memutuskan untuk bepergian sejenak. Istilah kerennya, travelling. Saya mengunjungi teman-teman saya. Berpindah dari satu teman ke teman lainnya. Sama seperti Stuck mengunjungi korban-korbannya. Hanya saja, saya tidak menginap lama-lama. Siapa tahu, salah satu teman saya malah mengira sayalah Stuck-nya. Serem juga dikira demikian.

Setiap malam saya lalui di tempat yang berbeda. Teman-teman saya menyambut gembira kedatangan saya. Bahkan ada yang saya inapi tanpa rencana. Melainkan atas undangan. “Sudah lama tak jumpa kamu. Nginep semalam aja, kan ga apa-apa. Kita ngobrol lagi sambil begadang kayak dulu,” alasan teman saya. Ya ampun, dia kira badan saya masih semudah dulu? Bertambah beberapa tahun saja sudah membuat tubuh saya terasa lebih lelah dan penat. Tua itu ada rasanya juga ternyata. Dulu kecil, saya ingin cepat dewasa. Supaya bisa punya uang sendiri, tidak perlu meminta orang tua. Setelah dewasa, saya agak menyesalkan keinginan saya dulu. Menjadi dewasa itu ternyata melelahkan.

Akhirnya, menginaplah saya di rumah teman saya itu. Benar saja, ia mengajak saya mengobrol hingga tengah malam. Lewat malah. Sampai mata sipit saya rasanya menjadi lebih sipit menahan kantuk. Sampai akhirnya, saya benar-benar tertidur saat ceritanya tengah klimaks. Saya tidak tahu apa dan bagaimana reaksinya ketika ia tahu saya tertidur ketika ia tengah semangat bercerita. Namanya juga ketiduran. Dan, malam itu, saya tidur tanpa mimpi. Tubuh dan pikiran saya sudah terlalu lelah untuk menyambut mimpi.

Paginya, giliran saya yang ditinggal tidur oleh teman saya. Ia lelah bercerita sendiri rupanya. Saya bahkan tidak ingat apa kisahnya semalam. Benak saya memikirkan Stuck. Apa ia tidak pernah tidur?

Ketika terbangun, teman saya ternyata tidak marah. Ia paham saya kelelahan. Katanya. Entah apa itu sesuai dgn kata benaknya. “Kamu menginap lagi saja semalam,” Ajaknya. Alamaakkk…. Satu malam lagi dengan begadang, dan cerita. Padahal saya sudah bermalam-malam tak tidur karena Stuck. Rasanya saya sudah siap tidur mengigau.

Saya menolak halus ajakan teman saya. Alasan saya, waktu libur saya sudah habis. Saya harus bekerja. Dan kantor saya jauh dari rumahnya. Dia terima alasan saya dengan pasrah, meski tak menyurutkan keinginannya untuk mengajak saya menginap di rumahnya lain waktu. Rupanya ia senang dengan kedatangan saya. Atau mungkin saya memang pendengar yang baik. Eits, saya tidak mau narsis soal yang satu ini. Toh saya menuliskan kata MUNGKIN, kan?

Malam-malam berikutnya, saya menginap lagi di tempat yang berbeda. Teman saya menyambut saya senang. Mudah-mudahan, memang benar-benar senang dengan kedatangan saya. Saya bersyukur, Stuck tidak bisa menghubungi handphone saya. Handphone saya terlalu canggih, menjadikannya kerap menolak telepon masuk secara otomatis kalau ada nomor yang tidak dikenal, atau bila saya sedang menikmati fitur-fiturnya.

Tidur saya lumayan nyenyak. Meski tanpa mimpi. Yang penting tidur. Walau hanya sejenak.

Sebelum tidur, saya sering memikirkan Stuck. Sedang apa dia sekarang. Dan, saya jatuh tertidur dengan memikirkan Stuck.

Saya tidak pernah bercerita tentang Stuck pada siapapun teman saya. Bisa-bisa mereka menyuruh saya kembali pulang karena rumah saya tinggal tanpa pengawasan. Hanya Stuck saja yang tinggal.
Hmmm… Sebenarnya bertamu, tapi lagaknya seperti tuan rumah.

Seminggu berlalu. Saya memutuskan kembali ke rumah. Peduli amat dengan Stuck. Yang penting saya sudah bisa tidur normal. Saya bisa mengistirahatkan tubuh saya dari ocehan dan ragam perintahnya. Lingkaran hitam dibawah mata saya mulai berkurang.

Stuck masih disana. Di rumah hati saya. Wajahnya bosan setengah mati. Berbanding dengan wajah saya yang mulai ceria. Saya bilang, saya pergi mengunjungi keluarga. (Boleh dibilang, dalam skala tertentu, teman-teman bisa dibilang sebagai keluarga, kan?)

Stuck tersenyum.
Saya bilang, kalau masih ingin menginap, silahkan. Tetapi saya masih harus pergi lagi. Ada banyak urusan.

Urusan dengan tidur, kata saya dalam hati.

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut saya, senyum Stuck menghilang. Wajahnya tampak kesal. Ia bertanya, “Berapa lama?”
Dengan ketus, saya menjawab, “Mana saya tahu! Namanya juga urusan. Banyak yang tidak terduga.”

Saya meninggalkannya termangu. Bodo amat dengan sopan santun. Ini rumah hati saya!

Saya mandi, dan mencoba tidur. Berhasil! Penat mengajak saya untuk tidur.
Dan, saya tertidur dengan mimpi bahwa saya ada di rumah hati saya yang tenang – tanpa Stuck.

Keesokan paginya, saya terbangun dengan lega. Karena mimpi saya cukup menyenangkan. Mata saya menangkap langit-langit kamar. Kulit saya merasakan serat-serat seprai katun yang melapisi kasur saya. Dan hidung saya menciup bau apak kapuk dari guling busuk saya sejak kecil.

Tetapi lebih dari itu, saya terbangun dengan pening.
Entah mengapa saya tak tahu.
Masih terlalu pagi untuk menebak-nebak dan berpikir. Apalagi menebak-nebak pikiran.

Pagi itu, Stuck ternyata sudah tak ada. Saya baru menyadari ketidakhadirannya ketika saya selesai mandi. Ternyata ia meninggalkan sebuah surat di nakas samping ranjang saya. “Gue ga bisa tidur. Ranjang gue, lo pake. Lain kali gue nginep lagi, ya.”

Yeee… Enak aja, ranjang Elo. Ranjang gue, tau! Rutuk saya dalam hati. Rasain lo ga bisa tidur, lanjutan dari rutukan berikutnya.

Tapi, kalimat terakhir isi pesannya membuat saya cukup bergidik juga. Lain kali gue nginep lagi. Duh, sehari aja udah tersiksa, apalagi lain kali. Aduh, berarti masih ada insomnia lain kali lagi . Aih…

Tapi ya sudahlah, yang penting Stuck sudah pergi. Entah sampai kapan. Entah kapan ia kembali. “Kalau bisa yang lamaaaaaaa dan panjaaannngggg….”, gerutu saya dalam hati.

Kepergian Stuck membuat saya bisa melanjutkan sisa pagi itu dengan riang. Karena Stuck sudah pergi. Bertamu ke rumah hati yang lain, entah siapa. Meski sebuah sudut di hati kecil saya agak gemetar juga membayangkan bahwa suatu saat Stuck akan kembali. Entah kapan. Aduh, yang penting tidak hari ini. Apalagi besok dan lusa. Juga tidak pula hari-hari berikutnya. Ah, tapi saya tahu ia pasti akan kembali. Meski, waktunya tak teramalkan.

Catatan ini dibuat pada suatu malam di Jakarta (2009),
ditengah hiruk pikuk kemacetan ibukota yang takkan pernah hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s