Quartet Dewi Biola
Sekilas penampilan mereka seperti Bond, dengan musik nyaris mirip seperti Vanessa Mae. Tetapi mereka tetap berbeda. Karena mereka adalah Minerva.
Meski baru berusia kurang dari setengah tahun, kehadiran Minerva sudah mulai mencuri perhatian. Empat gadis cantik dengan penampilan anggun bak model bergaya dengan biolanya diatas panggung musik yang digelar oleh L.A Indiefest beberapa waktu lalu.
Uniknya, mereka bukan bermain orkestra, melainkan musik metal!
Minerva memang dibentuk khusus oleh Aminoto Kosin dan Irwan Edianto yang saat itu menjadi music director untuk ajang festival musik indie tersebut. Sejak lama, Aminoto ingin memberikan warna baru serta kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan musik Indonesia. Sampai tercetuslah ide untuk mengolaborasikan sebuah String Quartet dengan band beraliran Rock. Konsepnya, setiap anggota adalah performer, bukan lagi sebagai musisi pengiring. Audisinya pun hanya berjalan kurang lebih satu bulan.
Minerva sendiri bukanlah anak-anak baru di dunia musik. Lama sebelumnya, grup yang digawangi oleh Cindy Clementine Arman, violin alto (27 tahun), Ayu Gayatri, viola alto (23 tahun), Sanjung Prima Cahaya Dewi, viola bass (25 tahun), dan Achdinanti Victoria Achjuman, violin alto (23 tahun) ini sudah kerap bertemu dalam berbagai pertunjukan orkestra. Makanya tidaklah sulit bagi mereka untuk membaur dan beradaptasi satu sama lain ketika sudah tergabung dalam satu kelompok.
Langsung Terjun Ke Panggung
Mengejar deadline untuk tampil di L.A Indiefest, Cindy, Ava, Gaya, dan Sanjung tak punya banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya. Nama Minerva pun dipilih hanya dalam waktu beberapa hari saja. Nama itu ’disumbang’ oleh salah seorang teman Gaya. Tetapi ternyata setelah dikulik, memiliki makna yang tak kalah cantik dengan pelafalannya. Minerva merupakan nama Yunani dari Dewi Athena, yang dikenal biijaksana serta memiliki kemampuan dalam berbagai bidang, seperti strategi perang dan pengobatan. Dewi Minerva juga dikenal sebagai dewi kesenian Yunani.
Selama kurang lebih satu bulan sejak terbentuk, para personil Minerva menjalani latihan-latihan yang lebih panjang dari biasanya. Apalagi, mereka juga dituntut untuk membawakan setidaknya satu lagu milik mereka sendiri. ”Padahal, kami belum punya album sama sekali,” kata Cindy. Suatu ketika, Aminoto Kosin muncul dengan membawa aransemen baru dari karya klasik berjudul Bumble Bee, yang akhirnya dibawakan sebagai hits debut Minerva.
Uniknya, biola yang identik dengan panggung orkestra justru bukan menjadi debut pertama quartet ini. ”Pertama kali manggung bersama, kami justru bermain musik metal,” kata Gaya. Di panggung tersebut, mereka dijadwalkan tampil berkolaborasi dengan Koil, Burger Kill, Seringai, dan Mocca.
Untunglah pengalaman sewaktu terlibat dalam pengerjaan Rockestra karya Erwin Gutawa mempermudah mereka beradaptasi dengan permainan musik bertempo cepat.
Meski demikian, Cindy, Ava, Sanjung, dan Gaya tak menampik sempat sakit kepala mendengar musik metal dari grup-grup yang akan berkolaborasi dengan mereka. ”Setiap hari, yang terngiang di telinga kami jadinya hanya musik metal saja. Dari sebelum latihan, hingga menjelang tidur,” tawa Cindy yang diamini ketiga personil lainnya. ”Tetapi akhirnya, lama kelamaan kami semua jadi menyukai musik metal. Ternyata enak juga, kok,” imbuh Cindy.
Minerva bahkan belum pernah bertemu dengan Koil, Burger Kill, dan Seringai, hingga beberapa hari sebelum manggung. ”Itu latihan bersama yang pertama, esoknya langsung tampil,” kenang Gaya.
Penampilan perdana mereka menuai banyak pujian dari kritikus dan penulis musik. Penampilan Minerva membuat lagu-lagu metal seperti Kenyataan Dalam Dunia Fantasi yang dibawakan oleh Koil, maupun Membakar Jakarta dan Mengadili Persepsi dari grup Seringai justru memberikan kesan musik metal yang megah.
Ya, Minerva berhasil menyuguhkan kolaborasi klasik dan rock metal yang cantik. Nyaris seperti kolaborasi Metallica dengan San Francisco Symphony Orchestra yang diarahkan Michael Kamen pada tahun 1999 silam.
Dari Pengiring jadi Performer
Tampil di panggung memang bukan hal asing buat para personil Minerva. Tetapi berada di garis depan panggung membuat mereka tak urung menjadi gugup. ”Maklum, kami biasa berada di bagian belakang, dan bukan pusat perhatian,” kata Cindy. Demam panggung pun dirasakan oleh keempatnya. Beberapa menit sebelum naik panggung, semua personil Minerva mengalami mulas dan sakit perut.
Ketegangan mereka tak berakhir sampai disitu. Secara kebetulan, Ear transmitter yang mereka gunakan, frekuensinya bertabrakan dengan radio dangdut lokal. ”Jadi telinga kiri kami mendengar siaran radio dan lagu dangdut, dan telinga satunya menyimak transmitter yang menyampaikan nada-nada lagu yang kami bawakan supaya nadanya tidak lari,” kata Gaya sambil tertawa.
Tak hanya itu, selama tampil, keempatnya juga berjuang menghindari kabel-kabel yang berserakan di panggung. Padahal mereka harus terus bergerak agar penonton tidak bosan. Sanjung bahkan sempat bertabrakan dengan vokalis Seringai. Sedangkan Gaya mengakali hindaran kabel dengan cara melompat-lompat. ”Penonton mengira kami berjingkrak-jingkrak, padahal sebenarnya kami menghindari kabel,” kata Gaya terkekeh.
Lantas, bagaimana reaksi penonton terhadap Minerva? ”Kami disoraki dan disiuli seperti penyanyi dangdut. Padahal itu panggung musik metal,” kata Gaya sambil tertawa.
Menunggu Album
Meski tampil dengan formasi yang sama dengan grup musik Bond, Minerva menolak dikatakan memiliki kesamaan musik. Menurut Cindy, selain formasi Bond menggunakan Cello, sedangkan Minerva tidak. Selain itu, musik Bond lebih klasik, sedangkan Minerva banyak menggunakan efek. Minerva juga tidak berpatokan pada satu jenis musik tertentu saja. Latar belakang minat musik mereka yang berbeda menjadikan kontribusi terhadap gaya musik Minerva; tidak hanya klasik, tapi juga rock, jazz, pop, hingga alternative.
Gaya, misalnya. Ia cenderung menyukai musik-musik tahun delapanpuluham, seperti Duran-Duran dan Madonna. Sedangkan Cindy yang kalem justru memilih menyukai musik ala GreenDay. Boleh dikata, Sanjung-lah yang paling mendalami musik klasik. Tak heran, karena kedua orang-tuanya adalah pengajar di dunia musik; ibunya seorang guru di Sekolah menengah Musik Yogyakarta, sedangkan ayahnya adalah dosen seni musik di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. Dari ke-empatnya, hanya Ava yang tidak memilih musik tertentu. ”saya penikmat semua jenis musik,” cengir Ava.
Lantas bagaimana Minerva menyebut musiknya? ”mungkin lebih tepat disebut New Wave. Karena meski menggunakan sound effect pada beberapa elemen, kami tidak menghilangkan musik klasik yang menjadi ciri khas instrumen violin dan viola,” kata Cindy.
Mengapa memilih biola sebagai alat musik andalan? ”Biola itu simpel dan enak dibawa-bawa,” kata Gaya. ”Suaranya juga khas,” imbuh Cindy. Sekilas, penampilan fisik antara viola dan violin (bila) tampak sama. Tetapi keduanya menghasilkan jenis nada yang berbeda. Karena senar viola lebih tebal ketimbang violin. ”Notasi viola juga lebih gampang ketimbang violin,” kata Cindy.
Sudah ada single, lantas kapan Minerva akan mengeluarkan album? ”Ibarat bayi, kami ini belum setahun. Masih mencoba merangkak. Album sih sedang disiapkan lagu-lagunya. Salah satu yang dimasukkan ya pasti Bumble Bee,” kata Cindy. Kita tunggu, lho, albumnya.
Kesan Minerva Tentang Personil Minerva
Minerva bukan hanya kompak dalam bermusik, tetapi juga di luar urusan musik. Tidak sulit bagi mereka untuk mendiskripsikan kesan mereka terhadap personil lainnya.
Gaya : Paling moody, pendiam, namun ekspresif. ”Gaya paling mudah bete kalau sedang lapar,” komentar Ava.
Sanjung : Paling lama mandinya. ”Sekali mandi bisa sampai satu jam. Saya sering mengetuk kamar hotel Gaya dan Ava karena kebelet pipis,” kata Cindy.
Cindy : Paling ’keibuan’, – makanya Cindy seringkali menjadi juru bicara Minerva. ”Selain paling tua usianya, Cindy juga lebih matang dalam berpikir dan bertindak,” ujar Gaya.
Ava : Paling heboh dan paling ceria. ”Kalau jalan nggak ada Ava, rasanya kurang rame,” kata Sanjung.